IBTIKAR BULETIN EDISI 6: DUA IRI HATI YANG DIBOLEHKAH

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُماَ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لآحَسَدَ ألآ فيِ اثنَتَينِ رَجُلُ اتَاهُ اللّٰهُ القُرانَ فَهُو يَقُومُ بِه انَأءَ اللًيلِ وَانَأءَ النَهَارِ وَرَجُلُ اعطَاهُ مَالآ فَهُوَ يُنفق مِنهُ انَأءَ الٌلَيِل وَانَأءَ النٌهَارِ. (رواه البخارى ومسلم والترمذى والنسائى وأبن ماجه)

Artinya : Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah (kemampuan membaca/menghafal Al-Qur’an). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari.”_ (HR. Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Sifat iri hati merupakan sifat yang sangat berbahaya jika melahirkan kebencian, permusuhan, dan konspirasi kejahatan, jika obyek yang dituju bersifat kebendaan atau materil. Sifat iri hati semacam ini disebut hasad, yaitu mengharapkan nikmat Allah pada seseorang dengan mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut. Di sisi lain, iri hati dapat melahirkan motivasi dan semangat dalam melakukan kebajikan, jika obyek yang dituju adalah amalan kebaikan seperti yang dijelaskan dalam hadits. Sifat iri hati semacam ini disebut ghibthah, yaitu mengharapkan nikmat Allah pada diri seseorang tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut.

Dari redaksi hadits diatas, iri hati itu dibolehkan terhadap dua jenis tersebut di atas. Dalam hadits ini, iri hati ditempatkan pada dua hal yaitu orang yang rajin membaca Al Qur’an dan senang bersedekah. Pertanyaanya mengapa Rasûlullâh Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya membolehkan iri hati terhadap kedua kelompok orang ini? Menurut hemat kami, redaksi hadits ini memberikan motivasi untuk gemar membaca Al-Qur’an dan bersedekah, karena kedua ibadah ini merupakan ibadah yang amat mudah ditinggalkan itu kegemaran membaca Al-Qur’an dan kegemaran bersedekah.

Karena kedua ibadah ini merupakan ibadah yang amat mudah ditinggalkan. Banyak sekali umat Islam yang buta aksara Al-Qur’an atau tidak mahir membaca Al-Qur’an, namun mereka membiarkan diri larut dalam buta aksara Al-Qur’an. Mereka enggan belajar kepada guru ngaji Al-Qur’an dengan alasan kesibukan atau malu karena usia. Demikian pula, banyak umat Islam yang diberikan keluasan rezeki, namun sulit bersedekah. Ada yang beralasan karena banyak kebutuhan, atau berbohong tidak ada uang, atau faktor kesombongan seperti Qarun yang mengatakan kekayaannya diraih semata-mata ilmunya sendiri.

Marilah kita bersemangat untuk gemar membaca Al-Qur’an siang dan malam, serta gemar bersedekah membantu anak-anak yatim, dan kaum dhuafa (Fakir Miskin). Bacalah Al-Qur’an setiap saat agar dicintai Allah SWT dan bersedekahkan agar diberkahi Allah SWT.

Oleh: Ust. Saiful Anwar, S.PdI (Guru PAI dan KMD SD Muhammadiyah 1 Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top